Senin, 13 April 2020

Etika dan Profesi Keguruan #11


Pertemuan minggu kesebelas
Ni Luh Sriyani (18413241001)


BANGKIT DARI PAHITNYA MASA LALU

Rabu, 08 April 2020 merupakan pertemuan kesebelas untuk mata kuliah Etika dan Profesi Keguruan tentunya masih dengan perkuliahan online di tengah penyebaran wabah covid 19 yang semakin hari semakin meningkat.  Hari ini saya akan menceritakan pengalaman saya ketika bertemu dengan salah satu teman semasa SMP. Kami memang sudah lama tidak bersua sejak kami memutuskan untuk melanjutkan sekolah SMA maupun Universitas ke tempat yang berbeda. Dulunya ia adalah salah satu teman terbaik saya ketika duduk di bangku SMP dan berpisah selama kurang lebih 5 tahun untuk misi meraih cita-cita hehe. Saat kami bertemu untuk sekedar berbincang-bincang memang tidak terlihat adanya kecanggungan di antara kami meskipun ini adalah pertama kalinya kami bertemu secara langsung sejakk kami lulus SMP kala itu. Keakraban diantara saya dengan dia masih terasa begitu hangat, kami ngobrol tentang kesibukan masing-masing, berbincang tentang bagaimana serunya saya dan dia mengenyam pendidikan tinggi di kampus masing-masing, dan tentunya obrolan semakin asyik ketika kami sama-sama menceritakan tentang pahitnya putus cinta dari seseorang yang begitu kami sayang. Dia berkata bahwa perlu waktu yang lumayan lama untuk benar-benar sembuh dari penyakit yang obatnya hanyalah waktu. Penyakit itu tidak salah dan tidak lain adalah patah hati hmm. Sebenarnya saya juga ingin berbagi pengalaman dengan dia tentang patah hati yang saya alami tapi saya memilih untuk diam karena dia terlanjur ngoceh dengan ceritanya yang alhasil mewajibkan saya untuk menjadi pendengar yang baik atas cerita-cerita teman saya ini hehe. Dia pernah begitu terpuruk sejak kekasihnya memutuskan hubungannya karena memilih bersama orang lain, ia begitu terpuruk karena hubungan mereka sudah berlangsung lama yakni sekitar 2 tahun. Selain itu, ia pun sangat menyayangi pasangannya, namun apa mau dikata di separuh perjalanan hubungan mereka harus kandas karena orang ketiga. Namun teman saya bercerita bahwa meskipun perlu waktu yang lam untuk move on tapi pada akhirnya ia kembali bangkit dan menata kembali hidupnya, menuliskan kembali target-target hidup yang harus ia capai, dan alhsail hal tersebutlah yang berhasil mendorong teman saya berhasil keluar dari keterpurukan masa lalu yang kelam. Selain itu, ia menyadari bahwa kehidupan tidak akan berakhir hanya karena ditinggal pacar, karena selain pacar, masih ada begitu banyak orang yang menyayanginya. Ada keluarga, sahabat, saudara, dan banyak orang-orang yang begitu perhatian dengannya. 

Dari sana kita belajar bahwa terkadang masa lalu memang tak selalu indah namun terpuruk dengan kenangan buruk itu tak akan membuat hidup kita menjadi maju, hanya akan menambah goresan luka yang semakin dalam kalau kita tidak mau bangkit dn bergegas menata kehidupan kembali. Untuk itu, ketika ada yang memiliki pengalaman yang sama tentang masa lalu yang pahit, kita harus berani untuk bangkit dan kembali semangat menjalani kehidupan ini. Bersedih setelah kepergian orang yang kita cinta memang merupakan suatu hal yang wajar namun tentu bukanlah pilihan yang bijak jika kita terus-terusan larut dalam kesedihan itu. Ada saatnya kita harus belajar ikhlas melupakan apapun itu yang memang tak ditakdirkan untuk kita miliki dan kembali melangkah kedepan demi kehidupan yang lebih baik lagi.

Etika dan Profesi Keguruan #10


Pertemuan minggu kesepuluh
Ni Luh Sriyani (18413241001)


KELUARGA ADALAH RUMAH

Rabu, 01 April 2020 merupakan pertemuan kesepuluh untuk mata kuliah Etika dan Profesi Keguruan, hari ini kami tetap melaksanakan perkuliahan secara daring mengingat penyebaran virus covid 19 semakin mengkhawatirkan sehingga pemerintah menghimbau semua masyarakat untuk belajar, bekerja, dan beribadah di rumah saja. Atas himbauan tersebut beberapa kampus termasuk UNY mengeluarkan kebijakan untuk melaksanakan perkuliahan secara daring sampai penyebaran covid 19 mulai mereda agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan. Hari ini saya akan menceritakan pengalaman selama melaksanakan perkuliahan secara daring di rumah dan berbagi sesuatu hal yang bisa dijadikan contoh yang baik bagi para pembaca hehe. Jadi, ketika melaksanakan perkuliahan secara daring tentunya saya menggunakan paket data karena memang di rumah tidak ada wifi. Awalnya saya merasa sedikit terbebani dengan sistem ini, karena tentunya akan banyak sekali kuota internet yang akan saya habiskan untuk menunjang perkuliahan online ini. Tapi untungnya anggota keluarga di rumah sangat mengerti dan memahami akan situasi kelam akibat covid 19 ini sehingga mereka paham betul akan kebutuhan saya saat ini. Mereka dengan antusias selalu menunjang kebutuhan saya dengan membelikan kuota internet yang cukup untuk menunjang perkuliahan online yang saya jalani selama di rumah. Mereka juga selalu memberikan saya semangat dan dorongan yang positif agar saya tetap antusias untuk mengikuti perkuliahan meskipun berlangsung tidak dengan tatap muka seperti biasanya. Hal yang paling membuat saya terharu adalah ketika mereka tidak pernah mengganggu saya ketika melaksanakan perkuliahan online karena mereka memahami ketika perkuliahan daring saya membutuhkan konsentrasi yang lebih agar bisa fokus terhadap materi yang disampaikan oleh dosen. Mereka para keluarga selalu memastikan kenyamanan saya ketika melaksanakan perkuliahan online, mereka memberikan saya fasilitas dan memberikan ruang untuk saya agar bisa tetap produktif meskipun harus melaksanakan perkuliahan di rumah. 

Dari sana saya belajar dan memahami bahwa keluarga adalah rumah ternyaman untuk kita melabuhkan segala suka dan duka kehidupan. Keluarga adalah rumah tempat kita melabuhkan rindu beribu rindu tanpa kerumitan filsafat dan matematika. Keluarga selalu mengerti dan selalu siap merangkul kita serta mendorong kita menjadi insan atau manusia yang lebih baik. Semoga dalam kehidupan ini kita selalu bisa menjaga keharmonisan dalam keluarga dan belajar banyak hal dari pendidikan utama dan pertama yakni keluarga.

Etika dan Profesi Keguruan #9


Pertemuan minggu kesembilan
Ni Luh Sriyani (18413241001)


BERBAGI MASKER DI TENGAH WABAH COVID 19 

Rabu, 25 Maret 2020 seharusnya merupakan pertemuan kesembilan untuk mata kuliah Etika dan Profesi Keguruan, namun mengingat hari ini merupakan Hari Raya besar Agama Hindu yakni perayaan Hari Raya Nyepi kami libur dan belajar di rumah masing-masing. Kali ini saya akan menceritakan kebaikan seorang bapak yang dengan begitu ikhlasnya berbagi dan memberikan masker kepada saya secara cuma-cuma di tengah pandemi covid 19 yang semakin meresahkan dan membuat kepanikan di masyarakat luas. Jadi, tepatnya tanggal 23 Maret saya memutuskan untuk pulang ke Bali karena diYogyakarta mulai sepi mengingat kampus diliburkan karena wabah pandemi covid 19. Saya begitu tergesa-gesa untuk pulang dan memesan tiket pesawat hari itu juga, karena saya akan ke tempat ramai yaitu bandara saya berinisiatif untuk membeli masker agar tidak terpapar virus di perjalanan ataupun di kerumunan banyak orang. Namun, tak satupun toko di Yogyakarta masih memiliki stok masker, akhirnya karena waktu yang tidak cukup saya pun menyerah dan bergegas ke bandara tanpa menggunakan masker. Sampai di bandara saya melihat semua yang antri menggunakan masker, jujur saya merasa takut dan panik kalau-kalau ketika saya tidak menggunakan masker akan terpapar virus dan akan menularkan pada orang-orang di kampung halaman. Sembari menunngu pesawat take off, saya duduk di sekitar gate penerbangan, di sebelah kanan saya duduk seorang bapak dengan keluarganya. Tak senganja kami saling menoleh dan bertatapan, awalnya saya merasa takut karena bapak itu seperti melihat sesuatu yang aneh pada diri saya. Akhirnya, bapak tersebut mendekati saya dan langsung bertanya, “nak kenapa tidak pakai masker?’     “saya sudah berusaha membeli masker di beberapa toko tapi stoknya sudah habis pak.”   “ini bapak ada satu masker sisa, untukmu, pakailah nak.”(sambil memberikan masker satu-satunya yang tersisa di tas bapak itu)   “baik pak, terimakasih banyak, semoga selalu diberikan kesehatan bapak dan keluarga nggih.”

Beberapa menit kemudian pesawat yang saya tumpangi pun siap untuk take off, dan saya pamit pada bapak tersebut mengingat pesawat yang kita tumpangi berbeda. Di dalam pesawat saya merasa lega karena sudah menggunakan masker, setidaknya sudah melindungi diri dari paparan virus yang mungkin saja berada di sekitar. Dalam penerbangan pun saya selalu mengingat kejadian manis bersama bapak yang baik hati tersebut. Saya merasa beruntung bertemu bapak sebaik dan setulus beliau, di tengah wabah covid 19 yang berdampak pada kelangkaan masker, bapak tersebut masih saja mau berbaik hati dan tulus ikhlas memberikan masker satu-satunya pada saya. Dari kejadian itu, saya belajar banyak hal, salah satunya adalah, di tengah-tengah situasi yang kelam akibat covid 19 ini, sebagai manusia yang notabenanya adalah makhluk sosial alangkah baiknya kita juga memperhatikan situasi sekitar dan keamanan manusia lainnya. Berbagi masker merupakan salah satu bentuk bahwa kita menyadari sesama manusia sudah selayaknya untuk saling menjaga dan melindungi agar penyebaran covid 19 tidak semakin meluas. Terimakasih bapak di antrian sekitar gate bandara Adisucipto yang sangat baik hati dan tulus.